Make your own free website on Tripod.com
SUARA PEMBARUAN ONLINE

1.000 Ekor Sapi Dari NTT Ke DKI

Kupang, 13 Januari

Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) secara bertahap mulai bulan Januari mengirim atau mengantarpulaukan sekitar 1.000 ekor sapi potong ke DKI Jakarta dan kawasan sekelilingnya, guna menunjang pemenuhan kebutuhan daging segar masyarakat setempat dalam menyambut hari raya lebaran bulan Februari mendatang.

Sapi-sapi potong tersebut meliputi 800 ekor jenis Bali Asal Timor (BAT) serta selebihnya 200 ekor jenis Sumba Ongole (SO).

Kepala Dinas Peternakan NTT Ir Elia Thimotius Salean yang dihubungi Pembaruan Jumat lalu di Kupang mengatakan, untuk sapi potong jenis BAT dikeluarkan dari Kabupaten Kupang, Timor Tengah Selatan, Timor Tengah Utara serta Belu melalui pelabuhan laut Tenau Kupang, Wini TTU serta Atapupu Belu dengan tujuan pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, Jawa Timur. Untuk selanjutnya diangkut dengan kereta api ke kawasan Cakung, Jakarta Timur guna menjalani masa karantina terlebih dulu. Sedangkan untuk jenis Sumba Ongole berasal dari Kabupaten Sumba Barat dan Sumba Timur yang dikapalkan lewat pelabuhan laut Waikelo dan Waingapu dengan tujuan DKI Jakarta.

Kegiatan pengapalan ke 1.000 ekor sapi potong untuk kebutuhan daging segar di DKI Jakarta menyambut lebaran tersebut, ditangani para pedagang hewan yang tergabung dalam DPD Pepehani NTT. Untuk pengapalannya tidak ada masalah, lantaran jasa angkutan kapal laut selalu tersedia.

Kendati Ditjen Peternakan, Deptan mengalokasikan 1.000 ekor sapi potong untuk menunjang pemenuhan kebutuhan daging segar menyambut hari raya lebaran di DKI Jakarta, namun demikian NTT selalu siap menambah jumlahnya manakala dirasakan belum mencukupi,'' ujar Ir Elia Salean. (071)

Masih Banyak Upaya Penyeberangan Ilegal

Warga Asing Ke Australia Lewat NTT

Kupang, 13 Januari

Hingga kini, masih banyak upaya penyeberangan secara ilegal yang dilakukan warga negara asing ke Australia lewat perairan Nusa Tenggara Timur (NTT). Bahkan, upaya tersebut juga banyak melibatkan nelayan tradisional yang diiming-iming sejumlah uang, agar mereka mau mengantar masuk ke Australia.

Kepala Biro Humas Pemda NTT, Drs Mell Adoe kepada Pembaruan Senin (13/1) pagi menjelaskan, upaya penyeberangan ilegal ke Australia tersebut diketahui setelah mendatangi Konsulat Jenderal RI di Darwin, Australia Utara, baru-baru ini.

Diperoleh data menyangkut jumlah pelanggaran batas perairan Australia yang dilakukan nelayan Indonesia, terbanyak dari NTT dengan membawa sejumlah warga negara asing. Mungkin, warga asing yang ingin masuk secara ilegal ke Australia menganggap wilayah NTT paling dekat dengan negara persemakmuran tersebut.

Uang Carteran

Sementara bagi para nelayan itu sendiri, sebenarnya telah memperhitungkan risiko kalau tertangkap, paling-paling kapalnya dibakar. Tetapi mereka sudah menerima sejumlah uang hasil carteran atau pembelian perahu dari warga asing tersebut.

''Memang, nelayan kita tergiur dengan uang yang dijanjikan warga asing yang ingin menyeberang ke Australia. Soalnya, kalau tertangkap dan perahu atau kapalnya dibakar, mereka sama sekali tidak merasa rugi karena telah menerima bayaran yang lebih banyak dibanding harga kapal sebenarnya,'' kilah Mell Adoe.

Meskipun diakui, pengetahuan nelayan Indonesia di NTT sangat rendah akibat latar belakang pendidikannya, namun tidak jarang para warga negara asing itu sendiri yang nekad membeli kapal dan menakhodai sendiri kapalnya ke Australia.

Bahkan, tidak jarang warga asing itu sengaja mencarter kapal untuk sekedar diantar ke salah satu tujuan wisata. Tetapi di tengah laut mereka bernegosiasi agar diantar masuk ke perairan Australia. Sehingga, secara tidak langsung ada nelayan Indonesia yang terlibat dalam upaya penyeberangan ilegal tersebut.

Ia mengakui, Pemda NTT maupun Pemda Kabupaten Kupang telah melakukan upaya penyuluhan kepada para nelayan di Pulau Rote, pulau paling selatan Indonesia tersebut, agar tidak melakukan pelanggaran batas teritorial kedua negara. Apalagi, kalau membawa warga negara asing yang berniat ke Australia secara ilegal.

Agaknya, belakangan ini mulai ada kecenderungan upaya penyeberangan ilegal dari kawasan lain di luar Pulau Rote, sehingga lolos dari pengamatan petugas. Ini terbukti dengan terdamparnya tujuh warga negara Turki di Pulau Rote, ketika akan memasuki Australia secara ilegal. (120)


The CyberNews was brought to You by the OnLine Staff
Last modified: 1/13/97