Make your own free website on Tripod.com
SUARA PEMBARUAN ONLINE

Didukung Dana Bank Dunia

16 Kawasan Khusus Yang Berorientasi

Agribisnis Dikembangkan Di NTT

Kupang, 14 Februari

Guna lebih menggalakkan sekaligus menunjang pembangunan pertanian yang berorientasi agribisnis, provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) melancarkan program pengembangan Kawasan Khusus secara bertahap dan terencana sebagai kawasan prioritas di 11 dari 13 Dati II yang ada, kecuali Kodya Kupang serta Kabupaten Ende dengan luas arealnya mencapai ribuan hektare. Areal seluas itu merupakan hamparan yang dinilai cocok untuk pengembangan pertanian yang berorientasi agribisnis.

Ketika dikonfirmasikan Pembaruan di Kupang, Kamis (13/2) malam lebih lanjut Ketua Bappeda NTT Drs. Johannes Lucas Therik, mengakui, kegiatan program pengembangan Kawasan Khusus di kawasan prioritas tersebut sudah mulai dilaksanakan sejak tahun 1992/93 lalu.

Ditandai dengan kegiatan optimalisasi pemanfaatan serta pengolahan areal persawahan di daerah irigasi Mbay Kecamatan Aesesa Kabupaten Ngada daratan pulau Flores bagian utara. Sampai dengan saat ini areal persawahan yang sudah diolah sudah mencapai 2.000 hektare lebih dari 800 hektare yang telah digarap sebelumnya. Dengan tingkat produktivitas panen padinya mencapai lima hingga enam ton gabah kering panen (GKP) perhektare dari rata-rata hanya 2,1 ton GKP perhektare sebelumnya.

Ke-16 Kawasan Khusus yang tersebar di kawasan-kawasan prioritas di daratan pulau Timor bagian barat, Alor, Flores dan daratan pulau Sumba tersebut, antara lain terdapat di dataran rendah Bena Kecamatan Amanuban Selatan Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). Dataran OEsao Kecamatan Kupang Timur Kabupaten Kupang. Dataran Aeroki Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) termasuk dataran Besikama Kabupaten Belu. Dataran Lantoka Kabupaten Alor. Dataran Hokeng Kecamatan Wulanggitang Kabupaten Flores Timur, Dataran Magepanda Kabupaten Sikka. Dataran rendah Mbay Kecamatan Aesesa Kabupaten Ngada.

Dataran Lembor dan Satar Gizing Kabupaten Manggarai. Dataran Kodi, Laratama dan Anakalang Kecamatan Katikutana Kabupaten Sumba Timur. ''Pada tahap awal areal yang dialokasikan untuk setiap kawasan khusus itu seluas 500 hektare,'' imbuh Drs. Therik.

Dana Bank Dunia

Diakui, sekitar 10 dari 16 Kawasan Khusus yang merupakan kawasan prioritas yang saat ini secara bertahap tengah dikembangkan di NTT di delapan kabupaten didukung dana bantuan Bank Dunia melalui NTAADP (Nusa Tenggara Agriculture Area Development Project), baru mulai dilaksanakan dalam tahun 1996/97 ini.

Di samping itu, satu Kawasan Khusus yakni Mbay di Kabupaten Ngada oleh Dewan Pengembangan Kawasan Timur Indonesia yang dipimpin Presiden Soeharto ditetapkan sebagai salah satu 13 Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (Kapet). Nantinya dikembangkan secara khusus. Untuk itu tengah disusun master plan pengembangannya. Tahun 1997/98 nanti diharapkan sudah dioperasionalkan.

Sementara itu, kegiatan pengembangan Kawasan Khusus lainnya yang tersebar di beberapa kabupaten mengandalkan dukungan dana yang bersumber dari APBD NTT. Ditopang dana dari APBD Kabupaten masing-masing sebagai dana pendamping. Sehingga diharapkan kegiatannya berjalan sebagaimana mestinya.

Menurut Johannes Lucas Therik, untuk kepentingan dan kemantapan pelaksanaan kegiatan Kawasan Khusus yang dibiayai dari dana bantuan Bank Dunia, dibangun sebuah laboratorium penelitian di kawasan OEsao Kecamatan Kupang Timur Kabupaten Kupang.

Kawasan Khusus yang dijadikan kawasan prioritas ini dimaksudkan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat NTT lewat kegiatan agribisnis. (071)


The CyberNews was brought to You by the OnLine Staff
Last modified: 2/14/97