Make your own free website on Tripod.com

* Laporan dari Rote (3)

Fobia sampaikan apologia terhadap GMIT

KETIDAKPUASAN dan kasak-kusuk tentang model pelayanan Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) selama 50 tahun ditanggapi Ketua Sinode Harian GMIT, Pendeta Dr. Benny Fobia. Di Fiulain, tempat yang dalam tradisi GMIT merupakan tempat pertama kali tiga raja Rote membawa Agama Kristen dan pendidikan ke Rote, Fobia menyampaikan sambutan yang isinya ibarat suatu apologia atau pembelaan terhadap keberaadaan model pelayanan GMIT. Pada bagian tertentu, Fobia hampir tak bisa menguasai perasaannya, sehingga suaranya agak tersedak seperti hendak terisak.

Berikut beberapa butir pembelaan yang diajukan, pertama, jangan bertanya mana gereja yang benar. Menurut Fobia, di Indonesia saat ini sudah ada 256 denominasi (aliran) Kristen Protestan. Hal itu tidak perlu memancing kita untuk bertanya, manakah gereja yang benar. Juga jangan bertanya, apakah GMIT termasuk gereja yang benar.

Cara bertanya demikian, kata Fobia, merupakan provokasi dari gerakan-gerakan rohani Protestan baru yang mengklaim diri sebagai gereja yang benar, agar warga GMIT meragukan GMIT sebagai gereja yang dimiliki, dipimpin dan diselenggarakan oleh Tuhan melalui hamba-hambaNya.

Fobia mengakui ada banyak suara sumbang tentang GMIT. Tetapi dia mengajak warga GMIT tidak mudah terpengaruh oleh kata-kata orang,sebaliknya warga GMIT meningkatkan rasa memiliki GMIT. Hal itu bertolak dari keyakinan GMIT adalah benar-benar milik Tuhan yang dipimpin dan diselenggarakan oleh Rohnya. Warga GMIT diserukan agar jangan sekali-kali merasa diri sebagai gereja yang benar.

Sebaliknya, warga GMIT diminta percaya bahwa Tuhan Allah sendiri yang telah membenarkan lewat Yesus Kristus dan bukan karena bersandar pada ilusi kebenaran diri sendiri.

Kedua, GMIT adalah gereja yang terbuka. Hal itu dibuktikan sejak delegasi Timor dalam sidang Am ke-3 Gereja Protestan Indonesia (GPI) tahun 1936. Saat itu delegasi Timor yang pertama mengusulkan agar dibentuk satu badan kerbersamaan gereja-gereja Protestan di Indonesia. Kertebukaan menurut GMIT adalah untuk menerima dan mengakui keberadaan gereja-gereja lain didasarkan pada pengakuan yang diangkat dalam rapat besar GPI di Batavia tahun 1933, bahwa dasar satu-satunya Yesus Kristus dalam 1 Kor 3:11. GMIT telah mencantum ayat tersebut dalam stempelnya. Itu berarti GMIT mengembangkan hubungan yang inklusif dengan gereja-gereja lain.

"Kita menjunjung prinsip hubungan kerja sama yang terbuka, dan positif-kreatif dengan siapa saja, tetapi kita tidak setuju apabila dilecehkan sebagai gereja yang tidak disertai Roh Kudus dan bahwa baptisan kita tidak Alkitabiah, dan sebagainya," tegas Fobia berapi-api.

Ketiga, pengakuan Yesus Kristus sebagai satu-satunya dasar harus memberi manfaat bagi orang lain. GMIT bahasakan pengakuan tersebut secara kontekstual dalam tema pelayanan "Yesus Kristus, Tiang Induk Rumah Allah." Tema metafor itu mengajak untuk berpikir dan berperilaku sebagai orang-orang serumah. GMIT menjadi anggota Persatuan Gereja-gereja Indonesia (PGI), CCA, WARC dan DGD (Dewan Gereja Dunia), hendak menyatakan bahwa kebersamaan sebagai orang-orang se rumah mempunyai cakupan lokal, regional, nasional dan internasional.

Dikatakan, semakin besar rumah, semakin menampung keragaman yang lebih besar yang menantang untuk menerima dan mengakui gereja lain sebagai buah tangan Roh Kudus yang sama berdiri di atas tumpuan Yesus Kristus sebagai tiang induk rumah Allah. Keterbukaan GMIT mesti mencakup saudara-saudara yang menganut keyakinan lain dengan azas kebersamaan sebagai ciptaan Allah dan sesama manusia. Karena titik kuat dari iman Kristen adalah sebagaimana Kristus memberikan dirinya untuk semua manusia, maka jemaat GMIT wajib memberi diri bagi semua manusia. Dengan demikian warga GMIT dapat hidup berdampingan secara dewasa dengan orang-orang yang lain di dalam masyarakat NTT yang berciri majemuk.

Keempat, gejala ekspansi aliran atau agama lain adalah tantangan membaharui misi GMIT. Menurut Fobia hal itu sejalan dengan hal penting dalam pandangan reformasi, yakni ecclesia semper reformanda artinya membaharui gereja terus menerus. Hal itu menuntun gereja untuk memperhatikan kehadirannya secara bermanfaat dan menjawab kebutuhan konteks di mana warga GMIT hidup. (paul bolla/bersambung)