Make your own free website on Tripod.com

* Laporan dari Rote (4-habis)

Baik tidak baik pendeta GMIT lebih baik

UNGKAPAN yang diangkat menjadi judul tulisan ini, bukan dalam konteks paham chauvinisme sempit. Ungkapan ini merupakan bagian dari pembelaan Ketua Sinode Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT), Pendeta Dr. Benny Fobia terhadap kecenderungan warga GMIT dalam mengundang pemberita-pemberita asing, bukan GMIT, yang disampaikan dalam sambutan pembukaan perayaan Yubileum GMIT di Fiulain, Desa Oebou, Kecamatan Rote Barat Daya, tanggal 1 Oktober 1997.

Pembelaan itu berawal dari komentarnya terhadap penandatanganan prasasti menandai kegiatan bersejarah di Fiulain. Prasasti yang ditandatangani Ketua Sinode GMIT, Pendeta Dr. Benny Fobia dan Wakil Gubernur NTT, Pieter Alexander Tallo, S.H., bertulisankan: "Di sini kami mengingat betapa indahnya tapak-tapak mereka yang membawa kabar baik."

Menurut Fobia, pernyataan yang dikutip dari Roma 10:15, merupakan reaksi Rasul Paulus untuk menjawab dalih orang-orang Yahudi bahwa tidak ada utusan yang diutus Allah kepada mereka supaya mereka mendengar dan percaya. Dalih itu dikemukakan untuk menutupi sikap mereka yang tertutup terhadap Injil (kabar baik).

Dalih seperti itulah, katanya, tidak jauh dari warga GMIT. Bahkan, menurut Fobia, banyak warga GMIT yang mencari pemberita-pemberita asing dengan dalih pemberita-pemberita GMIT sangat terbatas dan tidak menarik. "Sikap tersebut tak ubahnya seperti kacang lupa kulit. Baik tidak baik, pendeta GMIT lebih," kata Fobia yang disambut tepuk tangan umat yang menghadiri kebaktian di Fiulain.

Fobia lalu menjelaskan ungkapan bernuansa chauvinisme itu. Alasannya, dalam keadaan yang baik atau sulit, pendeta GMIT-lah yang mendampingi warga GMIT. Jika jumlah pendeta tidak cukup dan kemampuan mereka terbatas, hal itu tidak berarti belum ada kabar baik yang pendeta GMIT bawa.

Dikatakan, mungkin kabar baik itu tidak dikemas dengan menarik, dalam bentuk kotbah yang berapi-api, band yang penuh gebyar dan artis cantik yang suaranya menawan. Tetapi kemasan yang menarik tidak selamanya berarti berisi dan bermutu. Gaya saja tidak cukup, melainkan isi pekabaran Injil yang membebaskan.

"Saya mengajak warga GMIT untuk bersyukur karena Tuhan memberikan pelayan-pelayan, betapa pun terbatas sebagai utusan dari Tuhan. Tapak-tapak mereka terlihat indah di mana saja dan kapan saja Tuhan menempatkan mereka. Jangan sekali-kali melecehkan tapak-tapak indah," pinta Fobia.

Memang di Fiulain ada puluhan pendeta, pria dan wanita, seluruhnya menggunakan toga hitamnya duduk betah mengikuti prosesi liturgi meski langsung beratapkan langit. Mereka khidmat beribadah dengan modal soa langga (topi), untuk melindungi terpaan terik matahari yang menyengat kepala.

Namun, ada pendeta yang tampak lebih dahulu menanggalkan toga, sebelum ibadah berakhir. Ada beberapa pendeta yang tidak mendapat informasi membawa toga, tidak mengambil bagian dalam perarakan para pendeta.

Pada bagian lain, Fobia mengingatkan orang Rote yang mempersoalkan asal-usul peranan sebuah nusak (kerajaan) di Rote. Dikatakan, Tuhan telah mengubah perjalanan politis tiga raja Rote ke Batavia menggunakan perahu "Sangga Ndolu" (cari damai), sebagai perjalanan untuk menjemput mandat pekabaran Injil ke Pulau Rote. Hal itu bukan kebetulan, tetapi karena Tuhan. "Karena itu janganlah kita ribut tentang nusak mana yang lebih penting, tetapi sebaiknya kita bersyukur bahwa di sinilah (di Fiulain), untuk pertama kalinya Jemaat GMIT berdiri di Pulau Rote. ***

KETUA Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), Pendeta Dr. Sularso Sopater, mengingatkan GMIT agar menyadari kehadirannya memberi manfaat bagi orang lain. Melalui sambutan tertulis yang dibacakan Robert Riwu Kaho, "atas penugasan Sinode GMIT" Pendeta Sopater mengingatkan GMIT yang telah berusia 50 tahun adalah salah satu gereja besar di Indonesia yang beranggotakan hampir satu juta orang, bukanlah potensi yang kecil. Tetapi potensi itu baru sungguh-sungguh bermanfaat, apabila menjadi berkat bagi orang lain. Jumlah yang besar saja, tetapi berlaku introvert dan berorientasi kepada diri sendiri, katanya, tidak akan merupakan berkat. Sebaliknya menjadi beban bagi negara Indonesia.

Karena itu GMIT diharapkan sungguh-sungguh membuka diri melalui berbagai kegiatan pelayanan yang tidak membeda-bedakan suku, agama, ras dan golongan. Pelayanan GMIT hanya akan efektif dan berbuah, katanya, bila para anggotanya bermutu, baik moral/etik maupun pengetahuan, keahlian dan ketrampilan.

GMIT juga diingatkan untuk mengantisipasi secara sungguh-sungguh menyongsong eksploitasi Timor Gap yang sekarang telah dimulai. Tanpa pemikiran antisipasi, maka rakyat NTT yang sebagian adalah warga GMIT akan menjadi penonton saja dari berbagai-bagai kemajuan yang dicapai nanti.

"Saya menyerukan agar GMIT memberi perhatian yang cukup serius terhadap persoalan ini, agar kesalahan yang terjadi di Irian Jaya (Free Port) tidak terulang di sini (Timor, Red)," kata Pendeta Sopater. (paul bolla)