Make your own free website on Tripod.com

Rupiah "dicekik", rupiah "mencekik"

KENAIKAN nilai mata uang dolar Amerika Serikat AS terhadap nilai rupiah sungguh mengharu-biru perjalanan roda perekonomian Indonesia saat ini. Naiknya nilai mata uang dolar AS tersebut mengakibatkan melemahkan nilai rupiah yang juga menyertakan konsekuensi lanjutan yaitu naiknya harga-harga barang di pasaran. Jadi singkatnya nilai mata uang rupiah saat ini sedang "dicekik" dolar AS dan untuk menyesuaikan kondisi tersebut maka secara terpaksa rupiah "mencekik" konsumen. Fakta menjelaskan hal itu bahwa saat ini harga-harga barang di pasaran sudah naik bahkan masih merangkak terus.

Rupiah betul-betul "terguncang" menyusul naiknya nilai mata uang dolar Amerika Serikat, sejak awal Agustus 1997 lalu yang menyebabkan nilai rupiah berada pada posisi terpuruk yakni Rp 3.300,00 per dolar AS pada 1 September 1997 lalu. Padahal sebelumnya mencapai Rp 2.400 per dolar AS.

Ini berarti, jika anda membeli dolar AS maka rupiah yang dikeluarkan saat ini Rp 3.300,00 per dolar AS, padahal sebelumnya dapat dibeli dengan Rp 2.400,00 per dolar AS. Hal ini sangat mempengaruhi roda perekonomian Indonesia, karena harga-harga akan ikut naik. Kenaikan barang-barang tersebut sangat beralasan karena tentunya para konsumen akan mempertimbangkan pembelian barang-barang yang harganya sudah "melangit".

Akibat dari kurangnya pembeli sehingga terjadi penumpukan hasil produksi di tangan produsen. Ini sangat beralasan karena harga yang ditetapkan produsen mengikuti irama yang dimainkan dolar AS. Akibat lanjutannya terjadi gejolak perekonomian secara nasional. Kondisi ini "menggetarkan" situasi perekonomian secara nasional. Tak dapat dipungkiri, kondisi ini telah menyebabkan harga berbagai barang kebutuhan masyarakat terangsang naik.

Lihat saja kondisi di lapangan saat ini, seperti naiknya harga semen Kupang dari Rp 9.750 per zak, saat ini naik menjadi Rp 11.500. Hal yang sama juga terjadi pada seng dari Rp 7.000 naik menjadi Rp 8.000. Gula pasir dari 1.750/kg naik menjadi Rp 2.000/kg. Pokoknya hampir semua barang-barang di pasaran mengalami kenaikan yang cukup tinggi.

Hal ini berbeda dengan kondisi ketika posisi mata uang rupiah dua bulan lalu bermain pada angka Rp 2.400,00 per dolar AS. Sungguh tragis memang, kedudukan nilai alat pembayaran nasional itu saat ini. Seakan kita tersentak, beberapa pengamat ekonomi tidak dapat membaca dan memprediksi kejadian seperti ini.

Akibat goyahnya nilai rupiah kita, berbagai masalah timbul berentetan seakan melengkapinya. Mulai dari melonjaknya nilai barang kebutuhan masyarakat yang berkisar antara 5 hingga 40 persen, hingga isu penjadwalan ulang berbagai proyek-proyek pemerintah dan BUMN yang berkaitan dengan pemerintah.

Akan berlanjut

Pemerintah pun tidak berpangku tangan melihat kegusaran masyarakatnya, utamanya yang tergolong sebagai pemilik rupiah dan pelaku bisnis. Memasuki minggu ketiga bulan September ini, pemerintah pusat mengeluarkan berbagai kebijakan untuk "menghemat" rupiah ini, agar tidak banyak gentayangan di tangan masyarakat.

Kebijakan secara regional itu di antaranya, penundaan proyek di berbagai sektor pemerintahan, seperti proyek di lingkungan Departemen Perhubungan (Dephub), Departemen Pekerjaan Umum (Dep PU) serta Departemen Pertambangan dan Energi. Begitupun dengan berbagai penghematan untuk perjalanan dinas, seminar, lokakarya dan pengadaan tanah, pembangunan gedung/kantor, serta pengadaan peralatan.

Dalam bidang moneter, induk seluruh bank di Indonesia yaitu Bank Indonesia (BI), mengeluarkan Sertifikat Bank Indonesia (SBI), yang dinilai sebagai senjata pamungkas untuk "melawan" suku bunga deposito yang semakin tinggi. Keadaan terakhir untuk suku bunga di bank-bank pemerintah dan swasta mencapai sekitar 30 %.

Hingga saat ini suku bunga SBI berjangka waktu satu bulan sudah tinggal 25 %, sedangkan tiga bulan sekitar 22 %. Hal ini merosot sekitar 5 % dibanding posisinya pada saat krisis rupiah pekan lalu. Karena suku bunga SBI adalah patokan "harga pokok" uang. Bank-bank biasanya memasang suku bunga depositonya antara 2% hingga 5% di atas suku bunga SBI. Pemerintah menurunkan suku bunga SBI lantaran kurs rupiah tampak makin stabil pada kisaran angka Rp 2.900,00 per dolar.

Selain itu, akibat keadaan ekonomi seperti ini, beberapa pengusaha grosir dan pengecer barang-barang kebutuhan hidup masyarakat juga mengalami sistem perputaran uang yang disesuaikan keadaan. Dimana dulunya sistem kredit umum berlaku di antara pengusaha grosir dan distributor, namun sekarang semuanya beralih ke sistem pembayaran yang di sebut tunai.

"Bagaimana bisa cari untung, harga barang melonjak naik, daya beli masyarakat menurun, sistem pembayaran barang dari produsen secara tunai. Jika ini berlangsung hingga dua atau tiga bulan, dapat dipastikan puluhan pengusaha kecil akan gulung tikar," kata Iwan Santoso, pemilik toko Sempatik yang menjual berbagai buah-buahan dan alat tulis serta majalah.

Ia memprediksikan hal itu, dengan melihat pendapatan yang dialaminya menurun hingga 10 sampai 20 persen dari omzetnya pada dua bulan lalu. Dalam bidang pembangunan, proyek-proyek berskala besarpun tidak urung dari ancaman penjadwalan ulang atau bahkan ditangguhkan untuk sementara waktu.

Padahal, umumnya tahun anggaran yang lalu, pada bulan September hampir sebagian besar proyek-proyek tesebut sudah ditenderkan alias sudah diserahkan ke berbagai kontraktor.

Dalam bincang-bincangnya dengan Pos Kupang pertengahan pekan lalu, Kepala Kantor Wilayah Pekerjaan Umum (Kakanwil PU) NTT, Ir. R.T.S. Hardjono, mengutarakan bahwa sekitar 95 persen proyek dari sekitar 200 paket untuk tahun anggaran (TA) 1997/1998 yang ada di lingkungan kerjanya sudah ditenderkan, bahkan beberapa dari proyek itu sementara ini sedang dikerjakan oleh kontraktor.

Namun, demikian sudah dapat dipastikan 5 persen proyek yang belum ditenderkan itu, kemungkinan yang mengalami penundaan. Proyek-proyek itu umumnya berskala kecil dan termasuk dalam nilai proyek golongan C. Beberapa skala prioritas dari proyek-proyek pemerintah segera ditinjau.

Masih dalam lingkungan Kanwil PU NTT, proyek yang diprioritaskan yaitu, kawasan pembangunan ekonomi terpadu (Kapet) Mbay di Ngada, kawasan andalan di berbagai daerah seperti pembangunan kawasan Bolok dan kota Sulamu di kabupaten Kupang, pembangunan jalan lintas utara Flores, pembangunan lintas selatan pulau Timor, serta berbagai sarana jalan, jembatan dan bendungan (termasuk bendungan Tilong di kabupaten Kupang).

Di pihak kontraktor, situasi seperti ini, sangat merisaukan. Hal ini diakibatkan harga-harga bahan bangunan seketika dengan angka kisaran sekitar 34 persen. Barang kebutuhan bahan bangunan seperti besi beton yang ukuran 05 mm dari harga Rp 3.000,00 naik menjadi Rp 3.500,00 per batang atau melonjak sekitar 16,6 persen. Semen Kupang, yang dulunya Rp 9.750,00 naik menjadi Rp 11.500 atau naik hingga 17,9 persen, paku dengan ukuran 10-15 cm dari Rp 2.500,00 menjadi Rp 3.000,00 per kilogram atau naik sekitar 20 persen. Kaca polos yang berukuran 5 mm 1x1 m dari Rp 25.000,00 naik menjadi Rp 27.500,00 atau naik sekitar 10 persen. Sedangkan harga kenaikan yang lebih menjolok yaitu pada kayu bayam jenis papan yang ukuran 4x25x4 m dengan harga Rp 650.000,00 per kubik naik menjadi Rp 700.000,00 atau kenaikan mencapai 87,69 persen.

Ditambah lagi mereka harus menerima kebijakan tentang pengketatan uang yang diberlakukan oleh pihak perbankan. Selain itu, pemberian uang muka dari KPN (Kantor Perbendaharaan Negara) untuk proyek-proyek yang dikerjakan kontraktor turun dari 30 persen menjadi 15 persen bagi GEL (Golongan Ekonomi Lemah) dan BUGEL (Bukan Golongan Ekonomi Lemah) dari 20 persen turun menjadi 10 persen dari total anggaran proyek.

Pendapatan menurun

Beberapa pemilik toko di kota Kupang, dengan polos mengakui bahwa income atau omzet sejak pertengahan bulan Agustus hingga saat ini cendrung menurun, malah hingga melebihi 50 persen dari omzet normal.

Iwan Santoso, mengungkapkan bahwa saat ini para pngusaha yang menerima bahan dari pengusaha distributor, merasa kewalahan dalam hal pembayaran. Ini dikarenakan, transaksi mereka selama ini, bersifat kredit. "Barang dijual beberapa bulan, setelah itu baru dibayar, sehingga kami tinggal memesan barang saja. Namun sekarang ini, semuanya serba tunai. Tidak ada uang berarti tidak ada barang," paparnya.

Hal senada disampaikan Ir Richard O.Y, pemilik toko Kupang Aluminium, mengharapkan kondisi seperti ini tidak berlangsung lama, karena akan mengganggu roda perputaran uang di masyarakat. "Kami harapkan agar pemerintah tanggap melihat situasi ini. Sebagai pengusaha kami sangat merasakan kondisi ini, yang membuat omzet pendapatan kami menurun drastis," keluhnya.

Ia menjelaskan, bahwa pihaknya dengan terpaksa menaikkan harga jual barang-barang di tokonya, yang umumnya terdiri dari kaca dan aluminium. Hal ini karena naiknya harga beli barang tersebut di Surabaya, serta ongkos pengangkutannya pun semakin sulit.

"Terpaksa kami menjual dengan bahan dan barang yang terbatas. Apalagi sekarang ini, barang seperti kaca masih banyak yang belum masuk di Kupang. Sehingga kami terpaksa menolak sebagian permintaan masyarakat terhadap perabot kaca," lanjutnya.

Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) NTT, Mesakh Dupe, ketika ditemui dikediamannya, Jumat (19/9), mengakui bahwa hal ini sangat berpengaruh pada pekerjaan kontraktor karena harga sejumlah bahan bangunan yang merupakan kebutuhan utama mereka, cendrung meningkat bahkan melambung tinggi.

Pengusaha kayu bangunan di Oesapa, H.M. Darwis ketika ditemui mengatakan, kondisi seperti ini baru pertama kali dialami sejak ia bergelut dengan bisnis kayu bangunan pada usia sekitar belasan tahun.

Padahal menurutnya, untuk pedagang kayu bangunan, "musim panen" nya berkisar pada bulan Agustus hingga Desember. Namun, tahun ini, dimisalkan omzet setiap harinya sekitar Rp 1 juta, namun sekarang ini hanya sekitar Rp 300.000,00.

"Ini sangat parah selama kami berdagang kayu. Pendapatan kami turun sekitar 60 persen. Bisa dibayangkan jika kondisi seperti ini berlangsung lama, maka lambat laun kami akan bangkrut," katanya.

Harus hemat

Ketua Kamar Dagang dan Industri Daerah (Kadinda) NTT, Adhi Darmawan, mengimbau kepada sesama rekan pengusaha dan kontraktor, agar tidak terlalu risau melihat keadaan seperti ini. Karena, pemerintah sekarang sedang mencari jalan keluar dari permasalahan moneter ini.

Untuk itulah, ia mengharapkan agar masyarakat pelaku bisnis bisa menahan diri, agar bekerja sesuai dengan beban kerja yang diberikannya, juga harus senantiasa berprilaku hidup hemat. Hal ini karena menurut prediksinya, kondisi seperti ini akan berlangsung hingga dua tahun mendatang.

"Ini akan mengakibatkan rupiah di pasaran menjadi langka. Untuk itulah diharapkan pandai-pandailah mengatur perekonomian dan pembelanjaan," papar Darmawan. (oo)