Make your own free website on Tripod.com

* Wisata bangunan tua di kota Baa (2)

Mesjid An Nur Baa dibangun tahun 1928

MESJID An Nur, adalah salah satu bangunan tua yang menarik di Baa, terletak di Kelurahan Namodale, Kecamatan Lobalain. Mesjid ini dibangun pada tanggal 8 Mei 1928 dan baru selesai empat tahun kemudian. Mesjid itu dibangun berdasarkan gambar yang dibawa dari kota Makassar dengan ciri khas atap bersusun tiga.

Muhamad Ali Ismail, penjaga mesjid An Nur, menuturkan, mesjid tersebut sebenarnya mempunyai atap asli dari kayu sirap. Tetapi karena usianya dan kon-disi atapnya yang sudah rusak maka tahun 1975 direnovasi dan atapnya diganti dengan atap seng.

Pada sisi kanan mesjid yang terletak persis di pinggir pantai ini terdapat menara untuk azan de-ngan tinggi sekitar tujuh meter dari tanah. Menara tembok itu pada bagian atap berbentuk kubah mempunyai hiasan kembang di puncak kubah. Bentuk kubah yang sama terdapat di atap teras depan pintu depan mesjid. Pada puncak kubah ada miniatur mesjid.

Tembok mesjid bagian depan, merupakan tembok asli tahun 1928. Sedangkan di bagian bela-kang yang menghadap ke laut merupakan tembok baru karena perluasan bangunan mesjid. Bangunan aslinya berukuran sekitar 5 x 12 meter, kemudian diperluas menjadi 12 x 15 meter pada tahun 1975 dan tahun 1981.

Bagian-bagian yang masih asli antara lain jendela dan pintunya yang berukiran bunga mawar termasuk dengan kaca berwarna warni. Selain jendela, bedug yang terbuat dari batang pohon lontar juga masih asli dan masih dipakai hingga saat ini. Yang diganti hanya kulitnya saja sedangkan ba-dan bedug masih asli.

Bak penampung air untuk berwudhu juga asli. Bahkan menurut cerita Muhamad Ali, bak ini jauh lebih tua usianya dari mesjid itu sendiri, karena bak air itu merupakan bak pindahan dari mesjid An Nur yang pertama yang terletak sekitar seratus meter dari tempat mesjid tersebut. Bak air yang terbuat dari semen itu diangkat secara utuh saat pindah dari mesjid yang lama yang terletak sekitar 100 meter dari mesjid saat ini.

Riwayat pembangunan mesjid tua itu tidak diketahui secara pasti. Menurut Muhamad Ali, mesjid tersebut dibangun oleh Ismail bin Abdulah, yang kakek buyutnya berasal dari tanah Bugis. Mesjid tua ini banyak dikunjungi wisatawan mancanegara maupun wisatawan domestik. "Paling tidak sebulan sepuluh tamu," ujar Muhamad Ali sambil menunjukkan bagian bangunan.

Pada buku tamu itu kebanyakan para tamu mancanegara itu berasal dari Amerika maupun Eropa. Ini merupakan bukti bahwa bangunan tua bisa menjadi tempat wisata walaupun mesjid itu tidak dipromosikan. Namun dari sosok bangunannya saja sudah memiliki daya pikat. Di samping itu ada sebuah papan yang menyatakan bahwa mesjid itu dilindungi oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, sejak tahun 1994 berdasarkan Monumenten Ordonanti Stbl 1931.238.

Ketika penulis berkunjung ke mesjid ini awal Oktober 1997, mesjid ini sedang direnovasi untuk ketiga kalinya. Muhamad Ali mengatakan, baru-baru ini mereka menerima sumbangan dari seseorang yang tidak dikenal di Jakarta untuk renovasi mesjid tersebut. Biaya lainnya merupakan swadaya umat setempat. Dia perkirakan biaya untuk renovasi sekitar Rp 20 juta.

Melihat mesjid tua di Rote, seakan melihat kembali ke masa lalu. Komunitas muslim yang berasal dari Sulawesi maupun Sumatera telah bermukim di Rote selama berpuluh bahkan mungkin ratusan tahun bisa hidup berdampingan dengan aman dan damai dengan orang Rote yang beragama Kristen. Konon kerukunan beragama di Rote tetap terjaga berabad-abad hingga kini. Bahkan mungkin sesuatu tak lazim bahwa di Baa ada mesjid berdiri bersebelahan langsung dengan gereja. (evy harzufri/bersambung)